PENILAIAN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA
PENILAIAN OTENTIK DALAM PEMBELAJARAN
MATEMATIKA
Apa Itu Penilaian Otentik?
Menurut Jon
Mueller (2006), penilaian otentik merupakan suatu bentuk penilaian yang para
siswanya diminta untuk menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya yang
mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang
bermakna. Oleh karena itu penilaian otentik lebih sering dinyatakan
sebagai penilaian berbasis kinerja (performance based assessment) atau
penilaian kinerja (performance assessment).
Meyer (1992)
dan Marzano (1993) membedakan penggunaan kedua istilah tersebut, karena
penilaian otentik harus dilakukan pada situasi yang nyata (pada proses
belajar), sedangkan penilaian kinerja bisa saja dilakukan pada konteks yang
diciptakan sengaja untuk mengukur keterampilan tersebut (misalnya: setelah
proses belajar).
O’malley dan
Pierce (1996) mengatakan bahwa “penilaian otentik adalah bentuk penilaian yang
menunjukkan pembelajaran siswa yang berupa pencapaian, motivasi, dan sikap-yang
relevan dalam aktivitas kelas”. Contoh penilaian otentik termasuk di dalamnya
penilaian perfomansi (performance assessment), portofolio (portfolios),
dan penilaian diri sendiri (student self-assessment).
Sedangkan dalam Permendikbud Nomor 66 Tahun 2013 tentang standar penilaian
dinyatakan bahwa penilaian otentik adalah penilaian yang dilakukan secara
komprehensif untuk menilai mulai dari input (masukan), proses
danoutput (keluaran).
Mengapa Perlu Adanya Penilaian
Otentik?
Karena
penilaian otentik bersifat personalized, natural dan fleksible. Dimana keadilan
tidak akan terjadi jika penilaian relatif seragam, diluar diri dan mutlak.
Manfaat Penilaian Otentik
1. Memungkinkan
dilakukannya pengukuran secara langsung terhadap kinerja pembelajar sebagai
indikator capain kompetensi yang dibelajarkan;
2. Memberikan
kesempatan pembelajar untuk mengkonstruksikan hasil belajarnya;
3. Memungkinkan
terintegrasikannya kegiatan pengajaran, belajar, dan penilaian menjadi satu
paket kegiatan yang terpadu.
Prinsip Otentik
Berdasarkan Peraturan
Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Republik Indonesia
(PERMENRISTEKDIKTI) Nomor 44 Tahun 2015 tentang standar nasional pendidikan
tinggi.
Ø Pasal
20 Ayat 1:
Prinsip penilaian mencakup prinsip
edukatif, otentik, objektif, akuntabel, dan transparan yang dilakukan secara
terintegrasi.
Ø Pasal
20 Ayat 3:
Prinsip otentik sebagaimana dimaksud
pada ayat (1) merupakan penilaian yang berorientasi pada proses belajar yang
berkesinambungan dan hasil belajar yang mencerminkan kemampuan mahasiswa pada
saat proses pembelajaran berlangsung.
Proses
penilaian pada dasarnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari proses
pembelajaran, bukan bagian yang terpisah dari proses pembelajaran.
Mengembangkan Penilaian Otentik
Berarti Bahwa:
1. Mengenal
siswa lebih dekat;
2. Merevisi
skenario pembelajaran;
3. Meningkatkan
kualitas hasil belajar;
4. Meningkatkan self-assesment siswa;
5. Meningkatkan self-confident siswa.
Karakteristik Penilain Otentik
1. Memperlihatkan
kemampuan;
2. Lebih
fokus terhadap hal apa yang ditujukan/dikomunikasikan;
3. Dirancang
bersama-sama guru dan siswa;
4. Memberi
kesempatan yang luas untuk menilai sendiri.
Ciri Prinsip Penilaian Otentik
1. Memandang
penilaian dan pembelajaran secara terpadu;
2. Mencerminkan
masalh dunia nyata bukan hanya dunia sekolah;
3. Menggunakan
berbagai cara dan kriteria;
4. Holistik
(kompetensi utuh merefleksikan sikap, ketrampilan, dan pengetahuan.
Prinsip Penilaian Otentik
1. Merupakan
bagian yang terpisahkan dari proses pembelajaran, bukan bagian yang terpisah;
2. Harus
mencerminkan masalah dunia nyata, bukan dunia sekolah;
3. Harus
mengukur semua asfek;
4. Dilakukan
selama dan sesudah proses pembelajaran berlangsung;
5. Menggunakan
berbagai cara dan sumber;
6. Tes merupakan
salah satu alat penilain.
Tahapan Penilaian Otentik
1. Tahu
atau mengenal apa yang sudah dipahami siswa;
2. Memberikan
tugas dengan menggunakan standar berdasarkan level atau tahapannya;
3. Identifikasikan
kriteria yang dituntut untuk menyelesaikan tugas tersebut;
4. Membuat
rubrik penilain untuk mengukur kinerja.
Gambar Tahapan Penilaian Otentik
Cangkupan Penilaian Otentik
Terdapat
tiga aspek yang dinilai dalam penilaian otentik, yaitu kognitif (kepandaian),
afektif (sikap), dan psikomotorik. Griffin dan Peter (1991) mengatakan bahwa
setiap aspek yang dinilai memiliki karakteristik sendiri-sendiri dan
membutuhkan bentuk penilaian yang berbeda pula.
1. Kognitif
Aspek ini
berhubungan dengan pengetahuan individual (kepandaian/pemahaman) yang
ditunjukkan dengan siswa memperoleh hasil dari pembelajaran yang telah
dilakukan. Bentuk penilaian kognitif ini secara eksplisit maupun implisit harus
merepresentasikan tujuan pencapaian pembelajaran. Biasanya tes yang
dilaksanakan oleh guru dapat berupa ujian untuk mengetahui pemahaman terhadap
materi.
2. Afektif
Afektif
merupakan bentuk integrasi dari beberapa karakter, yaitu: prediksi respon baik
dan tidak baik, sikap dibentuk oleh pengalaman, dan tercermin dalam kegiatan
sehari-hari. Karakteristik yang dinilai lebih kepada sikap, norma, atitud,
nilai dan emosional yang merupakan bentuk perasaan individual.
Adapun level
penilaian afektif diantaranya:
Ø Sifat
menerima (perhatian, mendengar);
Ø Sifat
merespon (terlibat, aktif, motivasi, bereaksi);
Ø Menilai
(menghargai, bisa menerima apa adanya, komitmen);
Ø Kemampuan
mengatur/mengontrol diri (inisiatif sendiri, membandingkan, menghubungkan)
Ø Karakter.
Dalam melakukan
penilaian ini guru harus cermat dan hati-hati karena skala sikap biasanya sulit
ditentukan secara objektif. Komponen penilaian sikap pada siswa meliputi emosi,
konsistensi, target/tujuan, dan ketertarikan/minat. Pengukuran sikap dapat
dilakukan dengan teknik skala, metode observasi, dan respon psikologi.
Dalam
penilaian secara matematis dapat dilakukan dengan:
Ø Skala
likers: 0-4;
Ø Thurstone:
1-7;
Ø Semantic
differen: tinggi-rendah, suka-tidak suka, baik-tidak baik, tertarik-tidak
tertarik, dll.
3. Psikomotorik
Perkembangan
psikomotorik juga merupakan bagian dari ranah evaluasi yang harus diketahui
oleh guru. Penilaian psikomotorik merupakan bentuk pengukuran kemampuan fisik
siswa yang meliputi otot, kemampuan bergerak, memanipulasi objek, dan
koordinasi otot syaraf. Contoh penilaian ini misalnya pada kemampuan otot kecil
(misal mengetik) atau otot besar (misal melompat). Contoh yang termasuk
aktivitas motorik seperti pendidikan fisik, menulis tangan, membuat hasil karya
kerajinan dan lain-lain. Pengetahuan guru untuk mengenali kemampuan
psikomotorik siswa sangat penting karena psikomotorik merupakan bagian dari
bentuk kecerdasan. Siswa yang mampu mengetik secara cepat tidak hanya sekedar
memiliki kemampuan menggunakan perangkat komputer secara efisien, tetapi di
dalamnya juga terintegrasi kemampuan untuk membaca dan mengeja.
Tipe
penilaian psikomotorik yang digunakan harus mengacu pada tujuan, misalnya
melalui pertanyaan di bawah ini:
Ø Apakah
siswa mampu melakukan tugas dengan baik?
Ø Apakah
siswa dapat menunjukkan penampilan terbaiknya dalam tugas tersebut?
Ø Bagaimana penampilan seorang siswa jika
dibandingkan dengan siswa yang lain dalam kelas/bidang yang sama?
Jenis Penilaian Otentik
1. Penilaian
Kinerja
Guru dapat
melakukannya dengan meminta para siswa menyebutkan unsur-unsur proyek/tugas
yang akan mereka gunakan untuk menentukan kriteria penyelesaiannya. Dengan
menggunakan informasi ini, guru dapat memberikan umpan balik terhadap kinerja
peserta didik baik dalam bentuk laporan naratif maupun laporan kelas.
Beberapa
cara untuk penilaian berbasis kinerja:
Ø Daftar
cek (checklist)
Digunakan untuk mengetahui muncul
atau tidaknya unsur-unsur tertentu dari indikator atau subindikator yang harus
muncul dalam sebuah peristiwa atau tindakan;
Ø Catatan
anekdot/narasi (anecdotal/narative records)
Digunakan dengan cara guru menulis
laporan narasi tentang apa yang dilakukan oleh
masing-masing siswa selama melakukan tindakan;
Ø Skala
penilaian (rating scale)
dengan menggunakan skala numerik
berikut predikatnya. Misalnya: 5 = baik sekali, 4 = baik, 3 = cukup, 2 =
kurang, 1 = kurang sekali;
Ø Memori
atau ingatan (memory approach)
Digunakan oleh guru dengan cara
mengamati siswa ketika melakukan sesuatu, dengan tanpa membuat
catatan. Guru menggunakan informasi dari memorinya untuk menentukan
apakah siswasudah berhasil atau belum. Cara seperti tetap ada manfaatnya,
namun tidak cukup dianjurkan.
2. Penilaian
Proyek
Penilaian
proyek berfokus pada perencanaan, pengerjaan, dan produk proyek. Dalam kaitan
ini serial kegiatan yang harus dilakukan oleh guru meliputi penyusunan
rancangan dan instrumen penilaian, pengumpulan data, analisis data, dan
penyiapkan laporan. Penilaian proyek dapat menggunakan instrumen daftar cek,
skala penilaian, atau narasi. Laporan penilaian dapat dituangkan dalam bentuk
poster atau tertulis.
Beberapa
cara untuk penilaian proyek:
Ø Keterampilan
siswa dalam memilih topik, mencari dan mengumpulkan data, mengolah dan
menganalisis, memberi makna atas informasi yang diperoleh, dan menulis laporan;
Ø Kesesuaian
atau relevansi materi pembelajaran dengan pengembangan sikap, keterampilan, dan
pengetahuan yang dibutuhkan oleh siswa;
Ø Orijinalitas
atas keaslian sebuah proyek pembelajaran yang dikerjakan atau dihasilkan oleh siswa.
3. Penilaian
Portofolio
Penilaian
portofolio merupakan penilaian berkelanjutan yang didasarkan pada kumpulan
informasi yang menunjukkan perkembangan kemampuan siswa dalam satu
periode tertentu. Informasi tersebut dapat berupa karya peserta didik dari
proses pembelajaran yang dianggap terbaik, hasil tes (bukan nilai), atau
informasi lain yang releban dengan sikap, keterampilan, dan pengetahuan yang
dituntut oleh topik atau mata pelajaran tertentu.
Fokus
penilaian portofolio adalah kumpulan karya siswa secara individu atau
kelompok pada satu periode pembelajaran tertentu. Penilaian terutama dilakukan
oleh guru, meski dapat juga oleh siswa sendiri.
Penilaian portofolio dilakukan dengan menggunakan langkah-langkah:
Ø Guru menjelaskan secara ringkas esensi penilaian portofolio;
Ø Guru atau guru bersama siswa menentukan jenis portofolio yang akan dibuat;
Ø Siswa, baik sendiri maupun kelompok, mandiri atau di bawah bimbingan guru menyusun
portofolio pembelajaran;
Ø Guru menghimpun dan menyimpan portofolio siswa pada tempat yang sesuai, disertai catatan tanggal pengumpulannya;
Ø Guru menilai portofolio siswa dengan kriteria tertentu;
Ø Jika memungkinkan, guru bersama siswa membahas bersama dokumen portofolio yang dihasilkan;
Ø Guru memberi umpan balik kepada siswa atas hasil penilaian portofolio.
4. Penilaian
Tertulis
Penilaian
tertulis adalah penilaian yang menuntut siswa memberi jawaban secara
tertulis berupa pilihan dan/atau isian. Meski konsepsi penilaian otentik muncul dari ketidakpuasan terhadap tes tertulis
yang lazim dilaksanakan pada era sebelumnya, penilaian tertulis atas hasil
pembelajaran tetap lazim dilakukan. Tes tertulis terdiri dari memilih atau
mensuplai jawaban dan uraian. Memilih jawaban dan mensuplai jawaban. Memilih
jawaban terdiri dari pilihan ganda, pilihan benar-salah, ya-tidak, menjodohkan,
dan sebab-akibat. Mensuplai jawaban terdiri dari isian atau melengkapi, jawaban
singkat atau pendek, dan uraian.
5. Penilaian
Jurnal
Jurnal
merupakan wadah yang memuat hasil refleksi berupa sebuah dokumen yang secara
terus menerus bertambah dan berkembang, dan ditulis oleh siswa untuk
mencatat setiap kemajuan. Jurnal juga merupakan catatan guru selama proses
pembelajaran yang berisi informasi hasil pengamatan tentang kekuatan dan
kelemahan siswa yang terkait dengan kinerja ataupun sikap dan
perilaku siswa yang dipaparkan secara deskriptif.
Teknik
penilaian Jurnal dilakukan dengan menilai hasil kumpulan catatan atau
keberhasilan dalam suatu kegiatan dengan memperhatikan beberapa aspek, yaitu:
catatan dasar atau kelengkapan catatan, ketepatan waktu, pengembangan indikator
yang tinggi, sedang dan rendah, penilaian jurnal pada criteria
lainnya, dan menambahkan penilaian untuk kriteria bersama lainnya untuk
menentukan nilai total.
6. Penilaian
Lisan
Tes lisan yakni tes yang dilakukan dengan mengadakan
tanya jawab secara langsung antara guru dan siswa. Penilaian lisan
sering digunakan oleh guru di kelas untuk menilai siswa dengan cara
memberikan beberapa pertanyaan secara lisan dan dijawab oleh peserta didik
secara lisan juga.
Penilaian
lisan dapat dilakukan dengan dengan teknik:
Ø Guru
melakukan inventarisasi berbagai jenis soal yang akan diajukan
kepada siswa, sehingga dapat diharapkan memiliki validitas yang tinggi dan
baik dari segi isi maupun konstruksinya;
Ø Siapkan
pedoman dan ancar-ancar jawaban bentuknya;
Ø Skor
ditentukan saat masing-masing siswa selesai dites;
Ø Tes
yang diberikan hendaknya tidak menyimpang atau berubah arah dari evaluasi
menjadi diskusi;
Ø Guru
tidak diperkenankan diberikan pancingan dengan kata-kata atau kode
tertentu yang bersifat menolong;
Ø Tes
lisan harus berlangsung secara wajar. Jangan sampai menimbulkan rasa takut,
gugup atau panik di kalangan siswa;
Ø Guru
mempunyai pedoman waktu bagi siswa dalam menjawab soal-soal atau
pertanyaan pada tes lisan;
Ø Pertanyaan
yang diajukan hendaknya bervariasi;
Ø Pelaksanaan
tes dilakukan secara individual.
7. Penilaian
Praktek
Penilaian
Praktek dilakukan dengan cara mengamati kegiatan siswa dalam
melakukan aktivitas pembelajaran. Penilaian ini cocok digunakan untuk menilai
ketercapaian kompetensi atau indikator keberhasilan yang
menurut siswa menunjukkan unjuk kerja, misalnya bermain peran,
memainkan alat musik, bernyanyi, membaca puisi, menggunkan peralatan
laboratorium, mengoperasikan komputer.
8. Penilaian
Diri
Penilaian
diri adalah suatu teknik penilaian yang meminta siswa untuk menilai
dirinya sendiri berkaitan dengan status, proses, dan tingkat pencapaian
kompetensi yang dipelajarinya. Teknik penilaian diri dapat digunakan untuk
mengukur kompetensi kognitif, afektif dan psikomotor.
Penilaian
diri merupakan suatu metode penilaian yang memberi kesempatan
kepada siswauntuk mengambil tanggung jawab terhadap belajar mereka
sendiri. Mereka diberi kesempatan untuk menilai pekerjaan dan kemampuan mereka
sesuai dengan pengalaman yang mereka rasakan.
Penilaian
diri dilakukan berdasarkan kriteria yang jelas dan objektif. Oleh karena itu
penilaian diri oleh siswa di kelas perlu dilakukan melalui
langkah-langkah:
Ø Menentukan
kompetensi atau aspek kemampuan yang akan dinilai;
Ø Menentukan
kriteria penilaian yang akan digunakan;
Ø Merumuskan
format penilaian, dapat berupa pedoman penskoran, daftar tanda cek, atau skala
penilaian;
Ø Meminta siswa untuk
melakukan penilaian diri;
Ø Guru
mengkaji sampel hasil penilaian secara acak, untuk
mendorong siswa supaya senantiasa melakukan penilaian diri secara
cermat dan objektif;
Ø Menyampaikan
umpan balik kepada siswa berdasarkan hasil kajian terhadap sampel
hasil penilaian yang diambil secara acak.
Contoh Penilaian Diri Dalam Mengukur Kompetensi Afektif Pada Level Merespon
Nama:
Kelas:
Petunjuk:
isilah pertanyaan berikut dengan jujur, dengan memberikan tanda ceklis pada
kolom yang tertera disebelah pertanyaan.
No
|
Pertanyaan
|
SS
|
S
|
KD
|
TP
|
1
|
Dalam
diskusi terlibat dalam mengusulkan ide-ide untuk di diskusikan
|
||||
2
|
Saat
kelompok lain mempresentasikan bahan diskusi, aktif dalam mengajukan
pertanyaan
|
||||
3
|
Memiliki
rasa keingintahuan yang kuat dalam belajar
|
||||
4
|
Menanggapi
pendapat saat proses pembelajaran berlangsung
|
Keterangan:
SS :
Sangat Sering
S :
Sering
KD :
Kadang-Kadang
TP :
Tidak Pernah
masalahnya: bagaimana menerapkan otentik yang tidak hanya berbasis kinerja siswa saja, bagaimana dengan taksanomi bloom terhadap penilaian ini?
sebuah jurnal dari laila sari
REFLEKSI
EVALUASI
PEMBELAJARAN
Nama : PENGKI YUDISTIRA
NIM : P2A918007
Materi : Penilaian Outentik
1. Apa yang telah saya pahami?
Sikap
sebagai orang matematika :
·
Mengambil resiko dalam mengemban tugas
sebagai guru terhadap proses pembelajaran
·
Memungkinkan dilakukannya pengukuran secara langsung terhadap kinerja
pembelajar sebagai indikator capain kompetensi yang dibelajarkan;
·
Memberikan kesempatan pembelajar untuk mengkonstruksikan hasil belajarnya;
·
Memungkinkan terintegrasikannya kegiatan pengajaran, belajar, dan penilaian
menjadi satu paket kegiatan yang terpadu.
Modul
dalam pembelajaran matematika yang kontektual :
·
Sikap peduli, jika sikap ini sudah
muncul maka akan muncul sikap kreatif, kritis,dll
·
Mengenal siswa lebih dekat;
·
Merevisi skenario pembelajaran;
·
Meningkatkan kualitas hasil belajar;
·
Meningkatkan self-assesment siswa;
·
Meningkatkan self-confident siswa.
Penilaian
Afektif di era abad 21
Siswa
sebagai objek utama tidak hanya menjadi pendengar akan tetapi juga sebagai
penalar dalam memprediksi alami dari status afektif dan siswa saat ini juga sebagai Agent of Change
1.
Memperlihatkan kemampuan;
2.
Lebih fokus terhadap hal apa yang ditujukan/dikomunikasikan;
3. Dirancang
bersama-sama guru dan siswa;
4. Memberi
kesempatan yang luas untuk menilai sendiri.
Target
potensial sikap:
a. Sikap
positif terhadap pembelajaran
b. Sikap
positif terhadap diri sendiri
c. Sikap
positif terhadap diri sebagai pelajar ( mampu beradaptasi atau fleksibel dengan
ilmu yang sudah dimiliki dengan perkembangan terbaru dibidang kimia dan dengan
daya juang untuk mandiri)
d. Sikap
yang pantas terhadap yang berbeda dari
sekitar kita (integritas yang konsisten dalam bersikap yang ada dalam diri kita
yang berbeda dari yang lain, seperti pdeuli, menghargai orang lain, memberikan
pendapat dan menyemangati orang lain)
Target
potensial yang paling diminati :
a. Tertarik
pada spesifik subjek
b. Tertarik
pada subjek hubungan aktivitas
c. Tertarik
pada kepentingan orang banyak (peduli)
Tertarik
dalam usaha-usaha dalam hal yang berbeda dan tidak egois (sikap integritas,
peduli dan melawan egoisme sehingga kita memiliki integritas, berupaya untuk
tidak egois terhadap orang lain, empati)
2. Apa yang belum saya pahami?
Bagaimana menerapkan otentik yang tidak hanya
berbasis kinerja siswa saja, bagaimana dengan taksanomi bloom terhadap
penilaian ini?
Ternyata
masih banyak faktor lain dari berbagai masalah yang dihadapi seorang guru
terutama dalam proses penilaian terhadap siswa masih terkendala dan sebagai
evaluator juga masih belum menemukan solusi yang baik untuk mengatasi hal
tersebut.
3. Usaha-usaha apa saja yang dilakukan
supaya paham?
Mencoba
mendalami dan memahami dari masing-masing masalah terutama proses penilaian
pada pembelajaran matematika yang telah saya ketahui dan mencoba memahaminya
untuk diri sendiri dengan mengujicobakannya sampai saya mampu menyesuaikan
dengan semua keterampilan agar saya juga mampu menerapkan penilaian pada siswa
saya nantinya. Berdasarkan hasil diskusi dengan forum pascasarjana hal ini bisa
diatasi dengan karakter pendekatan masing-masing guru.
4. Apa yang saya dapatkan dari teman
diskusi?
Pada diskusi yang
dilakukan, ada beberapa poin inti yang dapat saya tarik dari teman-teman. Bahwa
dalam pembelajaran sangat penting untuk meninjau situasi kelas dikarenaakan
situasi akan menentukan proses pembelajaran. Situasi seperti emosi seorang
guru, emosi peserta didik, psikologis siswa dan lain sebagainya, setelah semua
itu terpenuhi maka strategi dan metode menjadi landasan utama dalam pembelajara
dengan memanfaatkan teknologi yang sangat dekat dengan dunia dalam genggaman. Penilaian otentik merupakan suatu bentuk
penilaian yang para siswanya diminta untuk menampilkan tugas pada situasi yang
sesungguhnya yang mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan
esensial yang bermakna. Oleh karena itu penilaian otentik lebih sering
dinyatakan sebagai penilaian berbasis kinerja (performance based assessment)
atau penilaian kinerja (performance assessment) sebenarnya. Karena pada
dasarnya penilaian otentik tetap dasarnya taksonomi bloom.
5. Apa yang dapat saya berikan?
Dari berbagai hasil
yang saya temukan dilapangan dan dari hasil diskusi dengan teman-teman, maka
harapan saya sebagai penulis mampu menyumbangkan pendapat beberapa solusi
permasalahan dasar keterampilan pada proses pembelajaran matematika dan harapan
pembelajaran akan lebih baik terutama menghadapi dunia 4.0.
Menurut Jon Mueller (2006), penilaian otentik merupakan suatu bentuk penilaian yang para siswanya diminta untuk menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mendemonstrasikan penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang bermakna. Oleh karena itu penilaian otentik lebih sering dinyatakan sebagai penilaian berbasis kinerja (performance based assessment) atau penilaian kinerja (performance assessment).
ReplyDeleteSebenarnya
Saya tidak sependapat dengan penyaji, karena pada dasarnya penilaian otentik tetap dasarnya taksonomi bloom.
Delete