Penilaian Afektif
Assalamu’alaikum Wr.Wb
Halo Semuanya…
Selamat datang kembali di postingan terbaru kami, postingan kali ini akan membahas salah satu penilaian dalam pembelajaran.
Sesuai dengan Permendikbud No.65 tahun 2013 tentang standar proses dan permendikbud no.66 tahun 2013 tentang standar penilaian maka pada penilaian kurikulum 2013 menggunakan penilaian autentic pada proses dan hasil yang mencakup 3 aspek penilain yaitu afektif, kognitif dan psikomotorik.
Penilaian afektif, bagi sebagian guru lebih sulit dilakukan dibanding penilaian kognitif atau penilaian psikomotor. Padahal dalam dunia pendidikan seperti halnya di sekolah, ranah afektif juga sangat perlu mendapatkan perhatian. Kenyataan selama ini di lapangan lebih menunjukkan penilaian afektif terkesan bagai “anak tiri” dibanding penilaian kognitif maupun psikomotor. Ada juga kasus-kasus di lapangan yang menunjukkan guru telah melakukan penilaian afektif, tetapi tanpa panduan atau instrumen yang baik.
A. Hakikat Pembelajaran Afektif
Hasil belajar menurut Bloom (1976) mencakup prestasi belajar, kecepatan belajar, dan hasil afektif. Andersen (1981) sependapat dengan Bloom bahwa karakteristik manusia meliputi cara yang tipikal dari berpikir, berbuat, dan perasaan. Tipikal berpikir berkaitan dengan ranah kognitif, tipikal berbuat berkaitan dengan ranah psikomotor, dan tipikal perasaan berkaitan dengan ranah afektif. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, atau nilai. Ketiga ranah tersebut merupakan karakteristik manusia sebagai hasil belajar dalam bidang pendidikan.
Menurut Popham (1995), ranah afektif menentukan keberhasilan belajar seseorang. Orang yang tidak memiliki minat pada pelajaran tertentu sulit untuk mencapai keberhasilan belajar secara optimal. Seseorang yang berminat dalam suatu mata pelajaran diharapkan akan mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Oleh karena itu semua pendidik harus mampu membangkitkan minat semua peserta didik untuk mencapai kompetensi yang telah ditentukan. Selain itu ikatan emosional sering diperlukan untuk membangun semangat kebersamaan, semangat persatuan, semangat nasionalisme, rasa sosial, dan sebagainya. Untuk itu semua dalam merancang program pembelajaran, satuan pendidikan harus memperhatikan ranah afektif.
Keberhasilan pembelajaran pada ranah kognitif dan psikomotor dipengaruhi oleh kondisi afektif peserta didik. Peserta didik yang memiliki minat belajar dan sikap positif terhadap pelajaran akan merasa senang mempelajari mata pelajaran tertentu, sehingga dapat mencapai hasil pembelajaran yang optimal. Walaupun para pendidik sadar akan hal ini, namun belum banyak tindakan yang dilakukan pendidik secara sistematik untuk meningkatkan minat peserta didik. Oleh karena itu untuk mencapai hasil belajar yang optimal, dalam merancang program pembelajaran dan kegiatan pembelajaran bagi peserta didik, pendidik harus memperhatikan karakteristik afektif peserta didik.
B. Tingkatan Ranah Afektif
Menurut Krathwohl (1961) bila ditelusuri hampir semua tujuan kognitif mempunyai komponen afektif. Dalam pembelajaran sains, misalnya, di dalamnya ada komponen sikap ilmiah. Sikap ilmiah adalah komponen afektif. Tingkatan ranah afektif menurut taksonomi Krathwohl ada lima, yaitu: receiving (attending), responding, valuing, organization, dan characterization.
1. Tingkat receiving
Pada tingkat receiving atau attending, peserta didik memiliki keinginan memperhatikan suatu fenomena khusus atau stimulus, misalnya kelas, kegiatan, musik, buku, dan sebagainya. Tugas pendidik mengarahkan perhatian peserta didik pada fenomena yang menjadi objek pembelajaran afektif. Misalnya pendidik mengarahkan peserta didik agar senang membaca buku, senang bekerjasama, dan sebagainya. Kesenangan ini akan menjadi kebiasaan, dan hal ini yang diharapkan, yaitu kebiasaan yang positif.
2. Tingkat responding
Responding merupakan partisipasi aktif peserta didik, yaitu sebagai bagian dari perilakunya. Pada tingkat ini peserta didik tidak saja memperhatikan fenomena khusus tetapi ia juga bereaksi. Hasil pembelajaran pada ranah ini menekankan pada pemerolehan respons, berkeinginan memberi respons, atau kepuasan dalam memberi respons. Tingkat yang tinggi pada kategori ini adalah minat, yaitu hal-hal yang menekankan pada pencarian hasil dan kesenangan pada aktivitas khusus. Misalnya senang membaca buku, senang bertanya, senang membantu teman, senang dengan kebersihan dan kerapian, dan sebagainya.
3. Tingkat valuing
Valuing melibatkan penentuan nilai, keyakinan atau sikap yang menunjukkan derajat internalisasi dan komitmen. Derajat rentangannya mulai dari menerima suatu nilai, misalnya keinginan untuk meningkatkan keterampilan, sampai pada tingkat komitmen. Valuing atau penilaian berbasis pada internalisasi dari seperangkat nilai yang spesifik. Hasil belajar pada tingkat ini berhubungan dengan perilaku yang konsisten dan stabil agar nilai dikenal secara jelas. Dalam tujuan pembelajaran, penilaian ini diklasifikasikan sebagai sikap dan apresiasi.
4. Tingkat organization
Pada tingkat organization, nilai satu dengan nilai lain dikaitkan, konflik antar nilai diselesaikan, dan mulai membangun sistem nilai internal yang konsisten. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berupa konseptualisasi nilai atau organisasi sistem nilai. Misalnya pengembangan filsafat hidup.
5. Tingkat characterization
Tingkat ranah afektif tertinggi adalah characterization nilai. Pada tingkat ini peserta didik memiliki sistem nilai yang mengendalikan perilaku sampai pada waktu tertentu hingga terbentuk gaya hidup. Hasil pembelajaran pada tingkat ini berkaitan dengan pribadi, emosi, dan sosial.
C. Karakteristik Ranah Afektif
Pemikiran atau perilaku harus memiliki dua kriteria untuk diklasifikasikan sebagai ranah afektif (Andersen, 1981:4). Pertama, perilaku melibatkan perasaan dan emosi seseorang. Kedua, perilaku harus tipikal perilaku seseorang. Kriteria lain yang termasuk ranah afektif adalah intensitas, arah, dan target. Intensitas menyatakan derajat atau kekuatan dari perasaan. Beberapa perasaan lebih kuat dari yang lain, misalnya cinta lebih kuat dari senang atau suka. Sebagian orang kemungkinan memiliki perasaan yang lebih kuat dibanding yang lain. Arah perasaan berkaitan dengan orientasi positif atau negatif dari perasaan yang menunjukkan apakah perasaan itu baik atau buruk. Misalnya senang pada pelajaran dimaknai positif, sedang kecemasan dimaknai negatif. Bila intensitas dan arah perasaan ditinjau bersama-sama, maka karakteristik afektif berada dalam suatu skala yang kontinum. Target mengacu pada objek, aktivitas, atau ide sebagai arah dari perasaan. Bila kecemasan merupakan karakteristik afektif yang ditinjau, ada beberapa kemungkinan target. Peserta didik mungkin bereaksi terhadap sekolah, matematika, situasi sosial, atau pembelajaran. Tiap unsur ini bisa merupakan target dari kecemasan. Kadang-kadang target ini diketahui oleh seseorang namun kadang-kadang tidak diketahui. Seringkali peserta didik merasa cemas bila menghadapi tes di kelas. Peserta didik tersebut cenderung sadar bahwa target kecemasannya adalah tes.
Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
1. Sikap
Sikap merupakan suatu kencendrungan untuk bertindak secara suka atau tidak suka terhadap suatu objek. Sikap dapat dibentuk melalui cara mengamati dan menirukan sesuatu yang positif, kemudian melalui penguatan serta menerima informasi verbal. Perubahan sikap dapat diamati dalam proses pembelajaran, tujuan yang ingin dicapai, keteguhan, dan konsistensi terhadap sesuatu. Penilaian sikap adalah penilaian yang dilakukan untuk mengetahui sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, kondisi pembelajaran, pendidik, dan sebagainya.
Menurut Fishbein dan Ajzen (1975) sikap adalah suatu predisposisi yang dipelajari untuk merespon secara positif atau negatif terhadap suatu objek, situasi, konsep, atau orang. Sikap peserta didik terhadap objek misalnya sikap terhadap sekolah atau terhadap mata pelajaran. Sikap peserta didik ini penting untuk ditingkatkan (Popham, 1999). Sikap peserta didik terhadap mata pelajaran, misalnya bahasa Inggris, harus lebih positif setelah peserta didik mengikuti pembelajaran bahasa Inggris dibanding sebelum mengikuti pembelajaran. Perubahan ini merupakan salah satu indikator keberhasilan pendidik dalam melaksanakan proses pembelajaran. Untuk itu pendidik harus membuat rencana pembelajaran termasuk pengalaman belajar peserta didik yang membuat sikap peserta didik terhadap mata pelajaran menjadi lebih positif.
2. Minat
Menurut Getzel (1966), minat adalah suatu disposisi yang terorganisir melalui pengalaman yang mendorong seseorang untuk memperoleh objek khusus, aktivitas, pemahaman, dan keterampilan untuk tujuan perhatian atau pencapaian. Sedangkan menurut kamus besar bahasa Indonesia (1990: 583), minat atau keinginan adalah kecenderungan hati yang tinggi terhadap sesuatu. Hal penting pada minat adalah intensitasnya. Secara umum minat termasuk karakteristik afektif yang memiliki intensitas tinggi.
Penilaian minat dapat digunakan untuk:
· mengetahui minat peserta didik sehingga mudah untuk pengarahan dalam pembelajaran,
· mengetahui bakat dan minat peserta didik yang sebenarnya,
· pertimbangan penjurusan dan pelayanan individual peserta didik,
· menggambarkan keadaan langsung di lapangan/kelas,
· mengelompokkan peserta didik yang memiliki minat sama,
· acuan dalam menilai kemampuan peserta didik secara keseluruhan dan memilih metode yang tepat dalam penyampaian materi,
· mengetahui tingkat minat peserta didik terhadap pelajaran yang diberikan pendidik,
· bahan pertimbangan menentukan program sekolah,
· meningkatkan motivasi belajar peserta didik.
3. Konsep Diri
Menurut Smith, konsep diri adalah evaluasi yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Konsep diri ini penting untuk menentukan jenjang karir peserta didik, yaitu dengan mengetahui kekuatan dan kelemahan diri sendiri, dapat dipilih alternatif karir yang tepat bagi peserta didik. Selain itu informasi konsep diri penting bagi sekolah untuk memberikan motivasi belajar peserta didik dengan tepat.
Penilaian konsep diri dapat dilakukan dengan penilaian diri. Kelebihan dari penilaian diri adalah sebagai berikut.
· Pendidik mampu mengenal kelebihan dan kekurangan peserta didik.
· Peserta didik mampu merefleksikan kompetensi yang sudah dicapai.
· Pernyataan yang dibuat sesuai dengan keinginan penanya.
· Memberikan motivasi diri dalam hal penilaian kegiatan peserta didik.
· Peserta didik lebih aktif dan berpartisipasi dalam proses pembelajaran.
· Dapat digunakan untuk acuan menyusun bahan ajar dan mengetahui standar input peserta didik.
· Peserta didik dapat mengukur kemampuan untuk mengikuti pembelajaran.
· Peserta didik dapat mengetahui ketuntasan belajarnya.
· Melatih kejujuran dan kemandirian peserta didik.
· Peserta didik mengetahui bagian yang harus diperbaiki.
· Peserta didik memahami kemampuan dirinya.
· Pendidik memperoleh masukan objektif tentang daya serap peserta didik.
· Mempermudah pendidik untuk melaksanakan remedial, hasilnya dapat untuk instropeksi pembelajaran yang dilakukan.
· Peserta didik belajar terbuka dengan orang lain.
· Peserta didik mampu menilai dirinya.
· Peserta didik dapat mencari materi sendiri.
· Peserta didik dapat berkomunikasi dengan temannya.
4. Nilai
Nilai menurut Rokeach (1968) merupakan suatu keyakinan tentang perbuatan, tindakan, atau perilaku yang dianggap baik dan yang dianggap buruk. Selanjutnya dijelaskan bahwa sikap mengacu pada suatu organisasi sejumlah keyakinan sekitar objek spesifik atau situasi, sedangkan nilai mengacu pada keyakinan. Target nilai cenderung menjadi ide, target nilai dapat juga berupa sesuatu seperti sikap dan perilaku. Arah nilai dapat positif dan dapat negatif. Selanjutnya intensitas nilai dapat dikatakan tinggi atau rendah tergantung pada situasi dan nilai yang diacu.
Definisi lain tentang nilai disampaikan oleh Tyler (1973:7), yaitu nilai adalah suatu objek, aktivitas, atau ide yang dinyatakan oleh individu dalam mengarahkan minat, sikap, dan kepuasan. Selanjutnya dijelaskan bahwa manusia belajar menilai suatu objek, aktivitas, dan ide sehingga objek ini menjadi pengatur penting minat, sikap, dan kepuasan. Oleh karenanya satuan pendidikan harus membantu peserta didik menemukan dan menguatkan nilai yang bermakna dan signifikan bagi peserta didik untuk memperoleh kebahagiaan personal dan memberi konstribusi positif terhadap masyarakat.
5. Moral
Piaget dan Kohlberg banyak membahas tentang perkembangan moral anak. Namun Kohlberg mengabaikan masalah hubungan antara judgement moral dan tindakan moral. Ia hanya mempelajari prinsip moral seseorang melalui penafsiran respon verbal terhadap dilema hipotetikal atau dugaan, bukan pada bagaimana sesungguhnya seseorang bertindak. Moral berkaitan dengan perasaan salah atau benar terhadap kebahagiaan orang lain atau perasaan terhadap tindakan yang dilakukan diri sendiri. Misalnya menipu orang lain, membohongi orang lain, atau melukai orang lain baik fisik maupun psikis. Moral juga sering dikaitkan dengan keyakinan agama seseorang, yaitu keyakinan akan perbuatan yang berdosa dan berpahala. Jadi moral berkaitan dengan prinsip, nilai, dan keyakinan seseorang. Ranah afektif lain yang penting adalah:
· Kejujuran: peserta didik harus belajar menghargai kejujuran dalam berinteraksi dengan orang lain.
· Integritas: peserta didik harus mengikatkan diri pada kode nilai, misalnya moral dan artistik.
· Adil: peserta didik harus berpendapat bahwa semua orang mendapat perlakuan yang sama dalam memperoleh pendidikan.
· Kebebasan: peserta didik harus yakin bahwa negara yang demokratis memberi kebebasan yang bertanggung jawab secara maksimal kepada semua orang.
D. Langkah-Langkah Menyusun Instrumen Penilaian Afektif
Dalam kaitan untuk mengetahui sejauh mana sikap dan minat siswa terhadap suatu mata pelajaran atau materi pelajaran, yang kedua termasuk bagian penting dari ranah afektif, maka guru perlu menyusun instrumen penilaian afektif. Untuk menyusun instrumen penilaian afektif, dapat dilakukan langkah-langkah sebagai berikut:
1. Pemilihan ranah afektif yang ingin dinilai oleh guru, misalnya sikap dan minat terhadap suatu materi pelajaran.
2. Penentuan indikator apa yang sekiranya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran
3. Beberapa contoh indikator yang misalnya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran, yaitu: (1) persentase kehadiran atau ketidakhadiran di kelas; (2) aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran berlangsung, misalnya apakah suka bertanya, terlibat aktif dalam diskusi, aktif memperhatikan penjelasan guru, dsb.; (3) penyelesaian tugas-tugas belajar yang diberikan, seperti ketepatan waktu mengumpul PR atau tugas lainnya; (4) kerapian buku catatan dan kelengkapan bahan belajar lainnya terkait materi pelajaran tersebut.
4. Penentuan jenis skala yang digunakan, misalnya jika menggunakan skala Likert, berarti ada 5 rentang skala, yaitu: (1) tidak berminat; (2) kurang berminat; (3) netral; (4) berminat; dan (5) sangat berminat.
5. Penulisan draft instrumen penilaian afektif (misalnya dalam bentuk kuisioner) berdasarkan indikator dan skala yang telah ditentukan.
6. Penelaahan dan meminta masukan teman sejawat (guru lain) mengenai draft instrumen penilaian ranah afektif yang telah dibuat.
7. Revisi instrumen penilaian afektif berdasarkan hasil telaah dan masukan rekan sejawat, bila memang diperlukan
8. Persiapan kuisioner untuk disebarkan kepada siswa beserta inventori laporan diri yang diberikan siswa berdasarkan hasil kuisioner (angket) tersebut.
9. Pemberian skor inventori kepada siswa
10. Analisis hasil inventori minat siswa terhadap materi pelajaran
Berdasarkan pemaparan tersebut, apakah penilaian afektif juga perlu dilakukan oleh guru matematika? Bagaimana jika hanya dilakukan oleh guru agama atau PKN?
Sumber:
http://guraru.org/guru-berbagi/sharing-instrumen-dan-rubrik-penilaian-afektif-kognitif-psikomotorik-untuk-kurikulum-2013/
https://akhmadsudrajat.wordpress.com/2008/08/15/penilaian-ranah-afektif/
REFLEKSI
EVALUASI
PEMBELAJARAN
Nama : PENGKI YUDISTIRA
NIM : P2A918007
Materi : Evaluasi Penilaian Afektif
1. Apa yang telah saya pahami?
Sikap
sebagai orang matematika :
Evaluasi yang dilakukan individu terhadap
kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target, arah, dan intensitas konsep diri
pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain. Target konsep diri biasanya
orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah. Arah konsep diri bisa positif
atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan dalam suatu daerah kontinum,
yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Modul
dalam pembelajaran matematika yang kontektual :
1. Pemilihan ranah afektif
yang ingin dinilai oleh guru, misalnya sikap dan minat terhadap suatu materi
pelajaran.
2. Penentuan indikator apa
yang sekiranya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan minat siswa
terhadap suatu materi pelajaran
3. Beberapa contoh
indikator yang misalnya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap dan minat
siswa terhadap suatu materi pelajaran, yaitu: (1) persentase kehadiran atau
ketidakhadiran di kelas; (2) aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran
berlangsung, misalnya apakah suka bertanya, terlibat aktif dalam diskusi, aktif
memperhatikan penjelasan guru, dsb.; (3) penyelesaian tugas-tugas belajar yang
diberikan, seperti ketepatan waktu mengumpul PR atau tugas lainnya; (4)
kerapian buku catatan dan kelengkapan bahan belajar lainnya terkait materi
pelajaran tersebut.
4. Penentuan jenis skala yang
digunakan, misalnya jika menggunakan skala Likert, berarti ada 5 rentang skala,
yaitu: (1) tidak berminat; (2) kurang berminat; (3) netral; (4) berminat; dan
(5) sangat berminat.
5. Penulisan draft
instrumen penilaian afektif (misalnya dalam bentuk kuisioner) berdasarkan
indikator dan skala yang telah ditentukan.
6. Penelaahan dan meminta
masukan teman sejawat (guru lain) mengenai draft instrumen penilaian ranah
afektif yang telah dibuat.
7. Revisi instrumen
penilaian afektif berdasarkan hasil telaah dan masukan rekan sejawat, bila
memang diperlukan
8. Persiapan kuisioner
untuk disebarkan kepada siswa beserta inventori laporan diri yang diberikan
siswa berdasarkan hasil kuisioner (angket) tersebut.
9. Pemberian skor
inventori kepada siswa
10. Analisis hasil inventori
minat siswa terhadap materi pelajaran
Penilaian
di era abad 21
Penilaian yang diselenggarakan oleh pendidik mempunyai banyak kegunaan,
baik bagi peserta didik, satuan pendidikan, ataupun bagi pendidik sendiri.
Secara rinci dapat dijelaskan manfaat penilaian, yaitu:
1. mengetahui tingkat ketercapaian Standar
Kompetensi yang sudah dijabarkan ke Kompetensi Dasar.
2. mengetahui pertumbuhan dan perkembangan
kemampuan peserta didik.
3. mendiagnosis kesulitan belajar peserta
didik
4. mendorong peserta didik
belajar/berlatih.
5. mendorong pendidik untuk mengajar dan
mendidik lebih baik.
6. mengetahui keberhasilan satuan
pendidikan dan mendorongnya untuk berkarya lebih terfokus dan terarah.
Target
potensial sikap:
a. Sikap
positif terhadap pembelajaran
b. Sikap
positif terhadap diri sendiri
c. Sikap
positif terhadap diri sebagai pelajar ( mampu beradaptasi atau fleksibel dengan
ilmu yang sudah dimiliki dengan perkembangan terbaru dibidang kimia dan dengan
daya juang untuk mandiri)
d. Sikap
yang pantas terhadap yang berbeda dari
sekitar kita (integritas yang konsisten dalam bersikap yang ada dalam diri kita
yang berbeda dari yang lain, seperti pdeuli, menghargai orang lain, memberikan
pendapat dan menyemangati orang lain)
Target
potensial yang paling diminati :
a. Tertarik
pada spesifik subjek
b. Tertarik
pada subjek hubungan aktivitas
c. Tertarik
pada kepentingan orang banyak (peduli)
Tertarik
dalam usaha-usaha dalam hal yang berbeda dan tidak egois (sikap integritas,
peduli dan melawan egoisme sehingga kita memiliki integritas, berupaya untuk
tidak egois terhadap orang lain, empati)
2. Apa yang belum saya pahami?
apakah penilaian afektif juga perlu dilakukan
oleh guru matematika? Bagaimana jika hanya dilakukan oleh guru agama atau PKN?
3. Usaha-usaha apa saja yang dilakukan
supaya paham?
Mencoba
mendalami dan memahami dari masing-masing masalah terutama proses penilaian
pada pembelajaran matematika yang telah saya ketahui dan mencoba memahaminya
untuk diri sendiri dengan mengujicobakannya sampai saya mampu menyesuaikan
dengan semua keterampilan agar saya juga mampu menerapkan penilaian pada siswa
saya nantinya. Berdasarkan hasil diskusi dengan forum pascasarjana hal ini bisa
diatasi dengan karakter pendekatan masing-masing guru.
4. Apa yang saya dapatkan dari teman
diskusi?
Pada diskusi yang
dilakukan, ada beberapa poin inti yang dapat saya tarik dari teman-teman. Bahwa
dalam pembelajaran sangat penting untuk meninjau situasi kelas dikarenaakan
situasi akan menentukan proses pembelajaran. Situasi seperti emosi seorang
guru, emosi peserta didik, psikologis siswa dan lain sebagainya, setelah semua
itu terpenuhi maka strategi dan metode menjadi landasan utama dalam pembelajara
dengan memanfaatkan teknologi yang sangat dekat dengan dunia dalam genggaman.
Pengembangan afektif peserta didik dapat dioptimalkan jika
guru telah merancangnya dengan baik pada RPP. Guru harus dapat menurunkan
indikator dari KD keterampilan yg telah ada pada kurikulum dengan tepat.
Sehingga keterampilan yg diharapkan akan dimiliki siswa tercapai. Seorang guru
juga hrus kreatif dn inovatif serta memanfaatkan berbagai sumber termasuk diskusi
dg guru-guru lain untuk menemukan rancangan terbaik yg diharapkan dapat
meningkatkan psikomotor siswa.
5. Apa yang dapat saya berikan?
Ada 5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu
sikap, minat, konsep diri, nilai, dan moral.
Dari berbagai hasil yang saya temukan dilapangan dan dari hasil diskusi dengan
teman-teman, maka harapan saya sebagai penulis mampu menyumbangkan pendapat
beberapa solusi permasalahan dasar keterampilan pada proses pembelajaran
matematika dan harapan pembelajaran akan lebih baik terutama menghadapi dunia
4.0.
Comments
Post a Comment