REFLEKSI
EVALUASI PEMBELAJARAN
Nama :
PENGKI YUDISTIRA
NIM :
P2A918007
Materi : Penilaian Outentik
1. Apa yang telah saya pahami?
Sikap sebagai orang
matematika :
· Mengambil resiko dalam
mengemban tugas sebagai guru terhadap proses pembelajaran
· Memungkinkan dilakukannya
pengukuran secara langsung terhadap kinerja pembelajar sebagai indikator capain
kompetensi yang dibelajarkan;
· Memberikan kesempatan
pembelajar untuk mengkonstruksikan hasil belajarnya;
· Memungkinkan
terintegrasikannya kegiatan pengajaran, belajar, dan penilaian menjadi satu
paket kegiatan yang terpadu.
Modul dalam pembelajaran
matematika yang kontektual :
· Sikap peduli, jika sikap ini
sudah muncul maka akan muncul sikap kreatif, kritis,dll
· Mengenal siswa lebih dekat;
· Merevisi skenario
pembelajaran;
· Meningkatkan kualitas hasil
belajar;
· Meningkatkan self-assesment siswa;
· Meningkatkan self-confident siswa.
Penilaian Afektif di era abad
21
Siswa sebagai objek utama
tidak hanya menjadi pendengar akan tetapi juga sebagai penalar dalam
memprediksi alami dari status afektif dan siswa saat ini juga
sebagai Agent of Change
1. Memperlihatkan kemampuan;
2. Lebih fokus terhadap hal
apa yang ditujukan/dikomunikasikan;
3. Dirancang bersama-sama guru dan siswa;
4. Memberi kesempatan yang luas untuk menilai sendiri.
Target potensial sikap:
a. Sikap positif terhadap pembelajaran
b. Sikap positif terhadap diri
sendiri
c. Sikap positif terhadap diri
sebagai pelajar ( mampu beradaptasi atau fleksibel dengan ilmu yang sudah
dimiliki dengan perkembangan terbaru dibidang kimia dan dengan daya juang untuk
mandiri)
d. Sikap yang pantas terhadap
yang berbeda dari sekitar kita (integritas yang konsisten dalam bersikap yang
ada dalam diri kita yang berbeda dari yang lain, seperti pdeuli, menghargai
orang lain, memberikan pendapat dan menyemangati orang lain)
Target potensial yang paling
diminati :
a. Tertarik pada spesifik subjek
b. Tertarik pada subjek hubungan
aktivitas
c. Tertarik pada kepentingan
orang banyak (peduli)
Tertarik dalam usaha-usaha
dalam hal yang berbeda dan tidak egois (sikap integritas, peduli dan melawan
egoisme sehingga kita memiliki integritas, berupaya untuk tidak egois terhadap
orang lain, empati)
2. Apa yang belum saya pahami?
Bagaimana
menerapkan otentik yang tidak hanya berbasis kinerja siswa saja, bagaimana
dengan taksanomi bloom terhadap penilaian ini?
Ternyata masih banyak faktor
lain dari berbagai masalah yang dihadapi seorang guru terutama dalam proses
penilaian terhadap siswa masih terkendala dan sebagai evaluator juga masih
belum menemukan solusi yang baik untuk mengatasi hal tersebut.
3. Usaha-usaha apa saja yang
dilakukan supaya paham?
Mencoba mendalami dan
memahami dari masing-masing masalah terutama proses penilaian pada pembelajaran
matematika yang telah saya ketahui dan mencoba memahaminya untuk diri sendiri
dengan mengujicobakannya sampai saya mampu menyesuaikan dengan semua
keterampilan agar saya juga mampu menerapkan penilaian pada siswa saya
nantinya. Berdasarkan hasil diskusi dengan forum pascasarjana hal ini bisa
diatasi dengan karakter pendekatan masing-masing guru.
4. Apa yang saya dapatkan dari
teman diskusi?
Pada diskusi yang dilakukan,
ada beberapa poin inti yang dapat saya tarik dari teman-teman. Bahwa dalam
pembelajaran sangat penting untuk meninjau situasi kelas dikarenaakan situasi
akan menentukan proses pembelajaran. Situasi seperti emosi seorang guru, emosi
peserta didik, psikologis siswa dan lain sebagainya, setelah semua itu
terpenuhi maka strategi dan metode menjadi landasan utama dalam pembelajara
dengan memanfaatkan teknologi yang sangat dekat dengan dunia dalam genggaman. Penilaian
otentik merupakan suatu bentuk penilaian yang para siswanya diminta untuk
menampilkan tugas pada situasi yang sesungguhnya yang mendemonstrasikan
penerapan keterampilan dan pengetahuan esensial yang bermakna. Oleh karena itu
penilaian otentik lebih sering dinyatakan sebagai penilaian berbasis kinerja
(performance based assessment) atau penilaian kinerja (performance assessment)
sebenarnya. Karena pada dasarnya penilaian otentik tetap dasarnya taksonomi
bloom.
5. Apa yang dapat saya berikan?
Dari berbagai hasil yang saya
temukan dilapangan dan dari hasil diskusi dengan teman-teman, maka harapan saya
sebagai penulis mampu menyumbangkan pendapat beberapa solusi permasalahan dasar
keterampilan pada proses pembelajaran matematika dan harapan pembelajaran akan
lebih baik terutama menghadapi dunia 4.0.
REFLEKSI
EVALUASI PEMBELAJARAN
Nama
:
PENGKI YUDISTIRA
NIM
: P2A918007
Materi
: Penilaian Outentik
1. Apa yang telah saya
pahami?
Sikap sebagai orang
matematika :
Penilaian ranah psikomotorik biasanya dilakukan dilakukan dengan
tes unjuk kerja atau tes perbuatan (praktek).
Aspek penilaian psikomotor terdiri dari:
–Meniru (perception)
–Menyusun (manipulating)
–Melakukan dengan prosedur (precision)
–Melakukan dengan baik dan tepat (articulation)
–Melakukan tindakan secara alami (naturalization)
Modul dalam
pembelajaran matematika yang kontektual :
Kriteria atau rubrik adalah pedoman penilaian kinerja atau hasil
kerja peserta didik. Dengan adanya kriteria, penilaian yang subjektif atau
tidak adil dapat dihindari atau paling tidak dikurangi, guru menjadi lebih
mudah menilai prestasi yang dapat dicapai peserta didik, dan peserta didik pun
akan terdorong untuk mencapai prestasi sebaikbaiknya karena kriteria
penilaiannya jelas.
Rubrik terdiri atas dua hal yang saling berhubungan. Hal pertama
adalah skor dan hal lainnya adalah kriteria yang harus dipenuhi untuk mencapai
skor itu. Banyak sedikitnya gradasi skor (misal 5, 4, 3, 2, 1) tergantung pada
jenis skala penilaian yang digunakan dan hakikat kinerja yang akan dinilai.
Penilaian di era
abad 21
Penilaian yang diselenggarakan oleh pendidik mempunyai banyak
kegunaan, baik bagi peserta didik, satuan pendidikan, ataupun bagi pendidik
sendiri. Secara rinci dapat dijelaskan manfaat penilaian, yaitu:
1. mengetahui
tingkat ketercapaian Standar Kompetensi yang sudah dijabarkan ke Kompetensi
Dasar.
2. mengetahui
pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik.
3. mendiagnosis
kesulitan belajar peserta didik
4. mendorong peserta
didik belajar/berlatih.
5. mendorong
pendidik untuk mengajar dan mendidik lebih baik.
6. mengetahui
keberhasilan satuan pendidikan dan mendorongnya untuk berkarya lebih terfokus
dan terarah.
Target potensial
sikap:
a. Sikap positif
terhadap pembelajaran
b. Sikap positif terhadap diri sendiri
c. Sikap positif
terhadap diri sebagai pelajar ( mampu beradaptasi atau fleksibel dengan ilmu
yang sudah dimiliki dengan perkembangan terbaru dibidang kimia dan dengan daya
juang untuk mandiri)
d. Sikap yang pantas terhadap yang
berbeda dari sekitar kita (integritas yang konsisten dalam bersikap yang ada
dalam diri kita yang berbeda dari yang lain, seperti pdeuli, menghargai orang
lain, memberikan pendapat dan menyemangati orang lain)
Target potensial
yang paling diminati :
a. Tertarik pada
spesifik subjek
b. Tertarik pada subjek hubungan aktivitas
c. Tertarik pada
kepentingan orang banyak (peduli)
Tertarik dalam
usaha-usaha dalam hal yang berbeda dan tidak egois (sikap integritas, peduli
dan melawan egoisme sehingga kita memiliki integritas, berupaya untuk tidak
egois terhadap orang lain, empati)
2. Apa yang belum saya
pahami?
di
jurnal ini saya belum bisa menemukan solusi bagaimana cara menggembangkan
psikomotorik siswa lebih terfokus? karena pengalaman saya berkecimbung di dunia
pendidikan sangat sulit mencari sekolah yng mengembangkan domain fisikomotorik
siswa terlebih khusus
3. Usaha-usaha apa
saja yang dilakukan supaya paham?
Mencoba mendalami
dan memahami dari masing-masing masalah terutama proses penilaian pada
pembelajaran matematika yang telah saya ketahui dan mencoba memahaminya untuk
diri sendiri dengan mengujicobakannya sampai saya mampu menyesuaikan dengan
semua keterampilan agar saya juga mampu menerapkan penilaian pada siswa saya
nantinya. Berdasarkan hasil diskusi dengan forum pascasarjana hal ini bisa
diatasi dengan karakter pendekatan masing-masing guru.
4. Apa yang saya
dapatkan dari teman diskusi?
Pada diskusi yang
dilakukan, ada beberapa poin inti yang dapat saya tarik dari teman-teman. Bahwa
dalam pembelajaran sangat penting untuk meninjau situasi kelas dikarenaakan
situasi akan menentukan proses pembelajaran. Situasi seperti emosi seorang
guru, emosi peserta didik, psikologis siswa dan lain sebagainya, setelah semua
itu terpenuhi maka strategi dan metode menjadi landasan utama dalam pembelajara
dengan memanfaatkan teknologi yang sangat dekat dengan dunia dalam genggaman.
Keberhasilan
pengembangan koqnitif berdampak positif pada perkembangan psikomotor. Kecakapan
psikomotor adalah segala amal jasmaniah yang konkrit dan mudah diamati baik
kuantitasnya maupun kualitasnya. Kecakapan psikomotor merupakan manifestasi
wawasan pengetahuan dan kesadaran serta sikap mentalnya.
Pengembangan
psikomotor peserta didik dapat dioptimalkan jika guru telah merancangnya dengan
baik pada RPP. Guru harus dapat menurunkan indikator dari KD keterampilan yg
telah ada pada kurikulum dengan tepat. Sehingga keterampilan yg diharapkan akan
dimiliki siswa tercapai. Seorang guru juga hrus kreatif dn inovatif serta
memanfaatkan berbagai sumber termasuk diskusi dg guru-guru lain untuk menemukan
rancangan terbaik yg diharapkan dapat meningkatkan psikomotor siswa.
5. Apa yang dapat saya
berikan?
Dari berbagai hasil
yang saya temukan dilapangan dan dari hasil diskusi dengan teman-teman, maka
harapan saya sebagai penulis mampu menyumbangkan pendapat beberapa solusi
permasalahan dasar keterampilan pada proses pembelajaran matematika dan harapan
pembelajaran akan lebih baik terutama menghadapi dunia 4.0.
REFLEKSI
EVALUASI
PEMBELAJARAN
Nama :
PENGKI YUDISTIRA
NIM :
P2A918007
Materi : Evaluasi Penilaian
Afektif
1. Apa
yang telah saya pahami?
Sikap
sebagai orang matematika :
Evaluasi
yang dilakukan individu terhadap kemampuan dan kelemahan yang dimiliki. Target,
arah, dan intensitas konsep diri pada dasarnya seperti ranah afektif yang lain.
Target konsep diri biasanya orang tetapi bisa juga institusi seperti sekolah.
Arah konsep diri bisa positif atau negatif, dan intensitasnya bisa dinyatakan
dalam suatu daerah kontinum, yaitu mulai dari rendah sampai tinggi.
Modul
dalam pembelajaran matematika yang kontektual :
1. Pemilihan
ranah afektif yang ingin dinilai oleh guru, misalnya sikap dan minat terhadap
suatu materi pelajaran.
2. Penentuan
indikator apa yang sekiranya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap
dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran
3. Beberapa
contoh indikator yang misalnya dapat digunakan untuk mengetahui bagaimana sikap
dan minat siswa terhadap suatu materi pelajaran, yaitu: (1) persentase
kehadiran atau ketidakhadiran di kelas; (2) aktivitas siswa selama kegiatan
pembelajaran berlangsung, misalnya apakah suka bertanya, terlibat aktif dalam
diskusi, aktif memperhatikan penjelasan guru, dsb.; (3) penyelesaian
tugas-tugas belajar yang diberikan, seperti ketepatan waktu mengumpul PR atau
tugas lainnya; (4) kerapian buku catatan dan kelengkapan bahan belajar lainnya
terkait materi pelajaran tersebut.
4. Penentuan
jenis skala yang digunakan, misalnya jika menggunakan skala Likert, berarti ada
5 rentang skala, yaitu: (1) tidak berminat; (2) kurang berminat; (3) netral;
(4) berminat; dan (5) sangat berminat.
5. Penulisan
draft instrumen penilaian afektif (misalnya dalam bentuk kuisioner) berdasarkan
indikator dan skala yang telah ditentukan.
6. Penelaahan
dan meminta masukan teman sejawat (guru lain) mengenai draft instrumen penilaian
ranah afektif yang telah dibuat.
7. Revisi
instrumen penilaian afektif berdasarkan hasil telaah dan masukan rekan sejawat,
bila memang diperlukan
8. Persiapan
kuisioner untuk disebarkan kepada siswa beserta inventori laporan diri yang
diberikan siswa berdasarkan hasil kuisioner (angket) tersebut.
9. Pemberian
skor inventori kepada siswa
10. Analisis
hasil inventori minat siswa terhadap materi pelajaran
Penilaian
di era abad 21
Penilaian yang diselenggarakan oleh pendidik
mempunyai banyak kegunaan, baik bagi peserta didik, satuan pendidikan, ataupun
bagi pendidik sendiri. Secara rinci dapat dijelaskan manfaat penilaian, yaitu:
1. mengetahui
tingkat ketercapaian Standar Kompetensi yang sudah dijabarkan ke Kompetensi
Dasar.
2. mengetahui
pertumbuhan dan perkembangan kemampuan peserta didik.
3. mendiagnosis
kesulitan belajar peserta didik
4. mendorong
peserta didik belajar/berlatih.
5. mendorong
pendidik untuk mengajar dan mendidik lebih baik.
6. mengetahui
keberhasilan satuan pendidikan dan mendorongnya untuk berkarya lebih terfokus
dan terarah.
Target
potensial sikap:
a. Sikap
positif terhadap pembelajaran
b. Sikap
positif terhadap diri sendiri
c. Sikap
positif terhadap diri sebagai pelajar ( mampu beradaptasi atau fleksibel dengan
ilmu yang sudah dimiliki dengan perkembangan terbaru dibidang kimia dan dengan
daya juang untuk mandiri)
d. Sikap
yang pantas terhadap yang berbeda dari sekitar kita (integritas yang
konsisten dalam bersikap yang ada dalam diri kita yang berbeda dari yang lain,
seperti pdeuli, menghargai orang lain, memberikan pendapat dan menyemangati
orang lain)
Target
potensial yang paling diminati :
a. Tertarik
pada spesifik subjek
b. Tertarik
pada subjek hubungan aktivitas
c. Tertarik
pada kepentingan orang banyak (peduli)
Tertarik
dalam usaha-usaha dalam hal yang berbeda dan tidak egois (sikap integritas,
peduli dan melawan egoisme sehingga kita memiliki integritas, berupaya untuk
tidak egois terhadap orang lain, empati)
2. Apa
yang belum saya pahami?
apakah
penilaian afektif juga perlu dilakukan oleh guru matematika? Bagaimana jika
hanya dilakukan oleh guru agama atau PKN?
3. Usaha-usaha
apa saja yang dilakukan supaya paham?
Mencoba mendalami dan memahami dari
masing-masing masalah terutama proses penilaian pada pembelajaran matematika
yang telah saya ketahui dan mencoba memahaminya untuk diri sendiri dengan
mengujicobakannya sampai saya mampu menyesuaikan dengan semua keterampilan agar
saya juga mampu menerapkan penilaian pada siswa saya nantinya. Berdasarkan
hasil diskusi dengan forum pascasarjana hal ini bisa diatasi dengan karakter
pendekatan masing-masing guru.
4. Apa
yang saya dapatkan dari teman diskusi?
Pada
diskusi yang dilakukan, ada beberapa poin inti yang dapat saya tarik dari teman-teman.
Bahwa dalam pembelajaran sangat penting untuk meninjau situasi kelas
dikarenaakan situasi akan menentukan proses pembelajaran. Situasi seperti emosi
seorang guru, emosi peserta didik, psikologis siswa dan lain sebagainya,
setelah semua itu terpenuhi maka strategi dan metode menjadi landasan utama
dalam pembelajara dengan memanfaatkan teknologi yang sangat dekat dengan dunia
dalam genggaman.
Pengembangan
afektif peserta didik dapat dioptimalkan jika guru telah merancangnya dengan
baik pada RPP. Guru harus dapat menurunkan indikator dari KD keterampilan yg
telah ada pada kurikulum dengan tepat. Sehingga keterampilan yg diharapkan akan
dimiliki siswa tercapai. Seorang guru juga hrus kreatif dn inovatif serta
memanfaatkan berbagai sumber termasuk diskusi dg guru-guru lain untuk menemukan
rancangan terbaik yg diharapkan dapat meningkatkan psikomotor siswa.
5. Apa
yang dapat saya berikan?
Ada
5 (lima) tipe karakteristik afektif yang penting, yaitu sikap, minat, konsep
diri, nilai, dan moral. Dari berbagai hasil yang saya temukan
dilapangan dan dari hasil diskusi dengan teman-teman, maka harapan saya sebagai
penulis mampu menyumbangkan pendapat beberapa solusi permasalahan dasar
keterampilan pada proses pembelajaran matematika dan harapan pembelajaran akan
lebih baik terutama menghadapi dunia 4.0.
Comments
Post a Comment